Dapatkah Kita Terkena Virus COVID-19 Untuk Kedua Kalinya ?

Dapatkah Kita Terkena Virus COVID-19 Untuk Kedua Kalinya ?

Pulih dari terjangkit virus corona memberi Anda kekebalan, tetapi para ahli tidak yakin berapa lama itu akan berlangsung. Kecemasan akan terjangkit virus untuk kedua kalinya ini sangat membuat orang kebingungan

Mengkonfirmasi reinfeksi COVID-19 sangatlah sulit karena memerlukan pengujian genetik dari sampel uji. Sebagian besar laboratorium di Indonesia, atau bahkan di dunia tidak dilengkapi dengan alat ujut sampe yang memadai.

Dapatkah Kita Terkena Virus COVID-19 Untuk Kedua Kalinya ?

Sejak awal pandemi coronavirus, para ahli telah bergulat dengan pertanyaan tentang seberapa besar kekebalan yang dimiliki seseorang setelah mereka sakit dengan COVID-19 dan apakah itu akan melindungi mereka di masa depan. Sementara virus corona terus bermutasi dan menyebar di seluruh dunia, lebih banyak orang telah pulih dari COVID-19 dan mungkin bertanya-tanya kekebalan seperti apa yang memberi mereka untuk menangkal infeksi kedua, dan apakah mereka masih memerlukan vaksin. Jawaban untuk pertanyaan kedua itu adalah Masih.

Setiap orang yang memenuhi syarat harus mendapatkan vaksin COVID-19, termasuk mereka yang pernah sakit virus corona dan sembuh. Ini karena penelitian telah menunjukkan bahwa vaksinasi memberikan dorongan kuat dalam kekebalan bagi mereka yang telah pulih dari COVID-19, dan vaksinasi adalah cara yang jauh lebih aman untuk mendapatkan kekebalan dari virus corona daripada terinfeksi COVID-19.

Orang yang tidak divaksinasi yang sebelumnya memiliki COVID-19 sekitar 2,34 kali lebih mungkin untuk terinfeksi ulang daripada orang yang divaksinasi yang sudah memilikinya. Studi lain yang diterbitkan bulan ini oleh para ilmuwan di Yale School of Public Health dan University of North Carolina di Charlotte, yang meneliti virus corona lain yang terkait dengan virus yang menyebabkan COVID-19, menemukan bahwa kekebalan setelah infeksi COVID-19 mungkin berumur pendek. Ini mungkin benar terutama dengan varian baru yang menular seperti delta dan delta plus.

“Ketika varian baru muncul, respons imun sebelumnya menjadi kurang efektif dalam memerangi virus,” kata Alex Dornburg, yang ikut memimpin penelitian, menurut siaran pers Yale. "Mereka yang secara alami terinfeksi di awal pandemi semakin mungkin terinfeksi kembali dalam waktu dekat." [Sumber: Link]

Artikel menarik lainnya:

Penulis

Web Designer & Developer. Wich also a Content Creator for JujungNet.id. My Facebook id: mugianto1nd

Tezt Dimana